21 Minggu : Posisi si Kakak Melintang

Beneran deh, mi dan bi selalu semangat banget tiap dateng waktunya ngontrol si kakak.
Saking semangatnya, kemaren sudah niat kontrol bulanan, eh pas pertengahan jalan baru ngeh kalo buku medical record mi lupa kebawa, terpaksa deh puter balik lagi ke rumah.
Setelah nyampe RSIA tempat biasa periksa, heran aja koq sepi ya, ga seperti biasanya antrian panjang dan bejibun.
Terus mi baca tulisan di depan buku medical record “buka setiap hari kerja (senin-sabtu), minggu libur”. Dan kemaren itu adalah MINGGU !!!
Jiaaaahhh, udah jauh-jauh dateng dengan semangat 45 mau liat si kakak, eh malah kena di hari libur, napa ga baca bukunya dari rumah tadi yak 🙁

[Klik] untuk lanjut membaca

16 minggu si kakak di perut mi :)

“Maka Nikmat Tuhan Kamu yang Manakah yang Kamu Dustakan?” (Q.S. Ar-Rahman : 16)

Sungguh besar nikmat bertubi yang diberikan Allah dalam kehidupanku hingga detik ini.
Dititipkan suami sabar dan penuh cinta, diamanahkan seorang bayi mungil buah cinta kami yang tak sabar rasanya ingin segera dapat memeluk dan menciumnya langsung.

16 minggu usia si kakak kini.
Ya, kami memanggilnya “si kakak”, agar ketika ia lahir nanti, ia tau bahwa ia tertakdir sebagai sulung yang sudah seharusnya dipanggil “kakak/abang/ayuk”.
Kami menaruh harap akan kedewasaan sikap dan perilakunya kelak, oleh karena itu kami tak mau menanamkan kemanjaan sejak dini padanya dengan membiasakannya dipanggil adek/dedek seperti layaknya panggilan terhadap bayi dan anak kecil pada umumnya.
Semoga harapan minda & biyah bisa kau wujudkan nanti ya, kak 🙂

[Lanjut yoookkk…]

Tiga Bulan Janinku kini :)

Lebih tiga bulan sudah usia pernikahan kami, dan aku bahagia, sungguh bahagia.
Rasanya sempurna sudah hidupku kini, dicintai oleh lelaki yang aku pilih, dipilih oleh lelaki yang aku cintai, ah begitu indahnya hidupku kini. Ditambah lagi, sebuah anugerah Tuhan yang luar biasa tengah bertumbuh di dalam rahimku, tepat tiga bulan usianya, seorang janin mungil buah cinta kami tengah menantikan saat-saat kelahirannya menjadi seorang khalifah di muka bumi.

[Lanjut yooookkk….]

Hariku Dan Harimu

Telah datang hari, dimana Allah menjadi saksi saat kau lingkarkan ikatan suci di jariku yang kau pilih, walau aku tak sesempurna istri sang Nabi.

Telah datang hari, dimana ku lingkarkan pula sumpah setia di jarimu yang ku pilih sebagai imamku, yang surga-Nya tak bisa kumasuki tanpa Ridho darimu.

Telah datang hari, dimana ku gelar sajadahku dan sajadahmu, kita bersujud dalam sepenggal waktu yang sama, lalu doa darimu ku Amini juga dalam hati, tepat satu shaf di belakangmu.

Telah datang hari, dimana selalu ku nanti alunan tausyiahmu sebagai pengantar tidurku, dan rasa syukurku karna Dia telah memberi cinta yang ku tujukan padamu.

 

Dan nanti…..

Akan datang hari, dimana kau dengungkan Adzan di balik daun telinga sosok mungil yang kelak akan mewarisi sebagian parasku juga sebagian tingkahmu.

Akan datang hari, dimana keteladananmu akan mengiringi tugasku sebagai madrasah bagi keturunan kita.

 

Lalu nanti…..

Akan datang hari, dimana kita akan melihat nisan dan memesan sepetak lahan berdampingan untuk nanti, ketika esok tak terlihat lagi.

Akan datang hari, dimana salah satu dari kita menghadap Ilahi, dengan pendamping hidup soleh & solehah yang selalu setia menemani sampai di akhir perjalanan nanti.

 

Dan Aku…..

Aku akan selalu berdiri di sini, memohon agar Allah tetap mengizinkanku sakinah bersamamu, hingga kelak dikumpulkan kembali dan bertemu di surga abadi.

Aku akan selalu sabar menanti, dimana akan datangnya janji Allah tentang “Hariku dan Harimu”.