Mual-Muntah Berlebihan (Hyperemesis) di Awal Kehamilanku

Menyeramkan mungkin judul tulisanku ini, tapi yah karena lagi senang-senangnya menikmati “proses menjadi ibu” ini, meskipun seram dan berat tetap ku hadapi juga dengan sepenuh ikhlas 🙂

So why diriku bikin tulisan dengan judul seperti ini???
Alasannya satu, karena ada banyak orang di luar sana yang kurang/tidak memahami apa yang terjadi dengan kondisi ibu hamil, sehingga ketika melihat/menemukan kasus bumil yang mengalami mual-muntah berlebihan maka langsung dianggap sebagai suatu kesalahan besar, baik dari si calon ibu yang dituduh manja dan malas makan lah sampai si suami yang dituduh tidak memperhatikan istri dan tidak mencukupi gizi istri…hufffff, “What a stupid opinion u have” 🙁

Contoh simpel aja, sejujurnya diriku lagi gemes banget setelah liat obrolan Cacinq dengan seorang temannya, tak perlu disebutlah namaya, tapi yang jelas si Mr.X ini juga sedang menuju “proses menjadi ayah” seperti halnya suamiku.
Beberapa waktu lalu diriku sempat diinfus karena divonis dokter mengalami hyperemesis gravidarum (mual-muntah berlebihan karena kehamilan) dengan TD sangat rendah (80/60mmHg).
Lantas apa hubungannya dengan Mr.X tadi???

Mungkin karena si Mr.X itu membandingkan kondisiku yang “mabok” parah dengan kondisi kehamilan istrinya yang sehat wal ‘afiat itu. Bukan malah menunjukkan sikap prihatin, diriku justru menangkap ada nada merendahkan pada obrolannya terhadap suamiku. Saat itu beliau katakan pada suamiku “Wah koq bisa parah gitu ya, di? hemmm, kurang gizi tuh di, makanya perhatiin dong istri loe, kasih makan yang banyak biar ga kurang gizi.”
Sumpah, pengen emosi banget sebenernya baca obrolan dia ke Cacinq, loe kira suamiku ga pernah kasih makan istrinya hah???
Cacinq bukan lelaki seperti kamu yang telah bertugas berminggu-minggu meninggalkan istri sendirian, sekalinya dapet izin pulang eh seharian malah menghabiskan waktu untuk main gaple bareng temen2mu, terpikirkah kamu bahwa istrimu dengan perut buncitnya tengah menanti dengan penuh harap bisa berbuka puasa bareng suami tercintanya, tapi kamu??? ya, kamu lebih memilih berbuka di luar dengan masakan dari tangan orang lain, itukah yang kamu maksud dengan “Suami yang memperhatikan istri dan kehamilannya”??? Ibu hamil bukan cuma butuh perhatian fisik, tapi terlebih Psikis-nya, Bung!!!   (Ah, tentu saja ini cuma kata2 letupan dalam hatiku saja) 🙁

Andai kamu tahu seberapa cinta dan perhatiannya Cacinq terhadap istri dan janinnya ini, tak semenitpun ia tega beranjak dari sisiku. Aku sakit 3 tahun lalupun ia dengan setia berhari-hari membuang waktunya percuma hanya untuk menungguiku di RS, apalagi sekarang aku telah sepenuhnya menjadi tanggungjawabnya, ditambah dengan kehadiran buah cinta yang semua orang menikahpun pasti menginginkannya. Jadi, amat sangat tidak mungkin jika suami sebaik Cacinq mengabaikan kesehatan istri dan janinnya.

Kembali ke masalah muntahku, tahukah Anda apa saja yang menjadi penyebab mual-muntah pada ibu hamil???
Oke, jika anda memang tidak mengerti, dengan sisa-sisa ilmu bidan saya akan mencoba memberi sedikit gambaran yang mungkin bisa sedikit menjelaskan tentang kondisi saya 🙂

Mual atau nausea, pada bulan-bulan pertama kehamilan disebabkan meningkatnya produksi hormon estrogen yang memancing peningkatan keasaman lambung.
Ada juga teori yang mengatakan, biang keladi mual-muntah tak lain adalah faktor HCG (Human chorionic gonodotropin). Hormon ini dihasilkan plasenta (ari-ari) selama awal kehamilan. Perubahan dalam tubuh ibu yang dipicu hormon ini kemudian menimbulkan rasa mual. Fungsi plasenta sebagai sirkulasi dan pemberi makanan pada janin akan tumbuh maksimal ketika kehamilan menginjak usia 12-14 minggu. Pada saat ini biasanya mual-muntah akan berhenti.
Teori lain mengatakan, sel-sel plasenta (villi korialis) yang menempel pada dinding rahim awalnya ditolak oleh tubuh karena dianggap sebagai benda asing. Reaksi imunologik inilah yang memicu terjadinya reaksi mual-mual.
Perubahan metabolisme glikogen hati akibat kehamilan juga dianggap sebagai penyebab mual-muntah. Namun, setelah terjadi penyesuaian terhadap sel-sel plasenta dan terjadi kompensasi metabolisme glikogen di dalam tubuh, maka rasa mual itu akan lenyap.
Mungkin juga karena adaptasi ibu hamil pada hormon-hormon yang timbul selama kehamilan kurang baik. Kemampuan beradaptasi ibu hamil, nyatanya memang sangat idiviudal seperti halnya reaksi alergi. Ibaratnya kalau makan udang, ada orang yang makan sedikit saja sudah alergi, tapi ada juga yang bisa makan banyak tanpa reaksi apa pun pada tubuhnya.

Jadi bung, mual-muntah saya ini karena faktor hormonal, bukan karena suami tidak memberi saya makan dan gizi yang cukup.
Nyatanya, meski berat badan saya menyusut 6kg dalam 2 bulan terakhir, dokter spesialis kandungan kami tetap memuji pertumbuhan janin saya yang kian bertambah dan berkembang sesuai usia kehamilan.
Si ibu kondisinya nge-drop bukan berarti si janin tak dapat asupan gizi yang cukup.
Yah, seperti isi bbm-nya mbak Fadillah Soraya pada saya beberapa waktu lalu, positifnya dari kondisi seperti saya ini, si ibu disuruh beristirahat total, jadi si bayi juga lebih terjaga dan lebih kuat nantinya 🙂
Positifnya yang saya rasakan, suami saya kini lebih mandiri, si anak bungsu yang manja kini mulai terbiasa menyiapkan semua keperluannya sendiri, yah meskipun ada beberapa hal yang tetap harus saya yang handle 😛

Untuk kamu Mr.X, syukuri saja kondisi istrimu yang tidak bermasalah dengan hormonnya, bukankah dengan begitu kamupun tidak perlu menghabiskan waktu sebanyak suamiku menghabiskan waktunya untuk istrinya??? 😉

 

One thought on “Mual-Muntah Berlebihan (Hyperemesis) di Awal Kehamilanku

  1. Pingback: Ardy Hidayat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *