Review film “Mestakung” di mata saya pribadi

Mestakung, sebuah film yang baru saja kami tonton semalam bersama komunitas blogger wongkito. Berbekal tiket yang jatuhnya jadi seharga Rp 10.000,- karena komunitas kami dapet subsidi 40 voucher @senilai Rp 15.000,- dari pihak produsen film, yah tak lain karena ada antek-antek wongkito yang bekerja di sana tentunya 🙂
Alhamdulillah yah, sesuatu banget lah pokoknya kalo bisa dapetin yang murah2, apalagi kalo gretongan, hihi 😛

mestakung

mestakung

Sejujurnya, kami ga nonton dari awal nih film dikarenakan tiket kami masih disita oleh ibu ini, terpaksa harus menunggunya naik dulu baru bisa masuk 😛
Meski ga nonton dari awal banget, overall filmnya lumayan bagus sih, banyak sisi-sisi mengharukan ketika si Arief (Sayef Muhammad Billah) dengan semangat membara mencari sang ibu (Hermalia Putri) yang sudah 7 tahun menghilang dan dikabarkan menjadi TKI di Singapura.

Sebagai sebuah film motivasi, tentunya Mestakung (Semesta Mendukung) ini cukup menginspirasi saya pribadi. Yah minimal jauh lebih baik lah ketimbang film Indonesia yang berbau “SS” (Setan & Sex).
Semalam, hingga pukul 01.00 WIB saya dan suami masih berdiskusi tentang film ini.
Entah kenapa di kacamata saya pribadi menemukan ada banyak “hal yang sangat disayangkan” di sana-sini film, saya merasa seperti sebuah ide yang kurang matang jadinya, dan ternyata suami sayapun berpendapat yang sama 🙂

Saya pribadi melihat ada banyak adegan dari scene (sin) satu ke scene satunya lagi seperti tidak terhubungkan, jadi sekilas seperti ada scene penyatu yang dibuang/dipotong, dan itu terlihat sangat kasar sekali.
Seperti pada setting di Singapura, ada adegan dimana Arief dan sahabatnya, Thamrin tersesat kebingungan mencari jalan pulang, setelah lama berjalan dengan kondisi “penyakit bengek” (asma) si Thamrin kambuh, lalu tiba-tiba langsung muncul adegan si Ariefnya nyantai berduaan di pinggir sungai dengan si Clara, ealah koq jadinya kayak sinetron “Putri yang ditukar” yah, tau-tau ketemu aja gitu, ga dijelasin gimana caranya mereka bisa balik ke tempat yang benar, padahal kan sebelumnya tas si Thamrin hilang dalam kereta, yang artinya perbekalan mereka seperti peta dan sebagainya turut lenyap juga. Jadi apa fungsinya adegan kehilangan tas, nguber-nguber kereta dan jalan kaki seharian itu???

Lalu juga menurut saya ada banyak scene yang harusnya tidak ada / mending diilangin deh, karena menurut saya maknanya hambar.
Seperti adegan Mbak Debora (Feby Febiola) yang sok disiplin mengecek kondisi asrama dan pintu keluar tapi ternyata luput memeriksa kamar siswa dan jendela tempat Arief dan Thamrin kabur beli ketoprak.
Ada juga adegan ibu Tari Hayati (Revalina S. Temat) yang tiba-tiba menyapa seorang anak yang dikiranya Arief hanya mungkin karena dorongan rasa kangennya pada murid kebanggaannya itu.
Dua adegan ini benar-benar tambahan yang ga penting menurut saya 🙁

Terus perannya si penipu, Cak Alul (Sujiwo Tedjo), setelah berdebat dengan Arief yang tidak mau menyerahkan uang tabungannya dan Cak Alul membocorkan rahasia mengapa ibunya Arief pergi, tiba-tiba peran si Cak Alul ini seperti menghilang di telan bumi.
Sayang sekali rasanya, padahal peran Cak Alul ini sangat mendukung karakter di awal film.
Saya pikir kenapa tidak dibuat pada saat tawaran olimpiade tingkat Nasional itu dimana kepala sekolahnya tak mau memberikan anggaran dana untuk lomba, kenapa tidak si Arief saja mengorbankan sebagian uang tabungannya untuk biaya pendaftaran lomba itu, lalu uangnya hilang dirampas oleh Cak Alul dan anak buahnya.
Saya rasa seperti itu justru lebih seru dan lebih terlihat susahnya perjuangan si Arief ini menggapai impian, mengingat film ini berlatar dari sebuah novel non-fiksi tentang seorang profesor yang berhasil membawa timnya memenangkan olimpiade fisika di Singapura pada tahun 2006.

Dan yang saya dan suami tau, karena kami berdua sama-sama meyakini dan mengenal istilah “Mestakung” sejak tahun 2007/2008. Setau kami, mestakung tidak mengenal kata-kata negatif seperti: tidak, jangan, takut, menyerah, kecewa.
Dan terus terang saya kecewa pada karakter si Arief yang “kadang mudah patah, menyerah, takut, kecewa” dan seringkali mengatakan “tidak” pada kesempatan. Berbeda dengan karakter Arrai (Ariel Peterpan) di film “Sang Pemimpi” yang memang terlihat kokoh mengejar sesuatu yang menjadi impiannya.

Ah ya, dari semalam yang saya pikirkan ketika para siswa digembleng habis-habisan untuk lomba ke Singapura itu, kenapa hanya fisikanya saja yang sepertinya digenjot habis-habisan, kenapa sedikitpun tidak ada adegan para siswa diajarkan memperlancar Bahasa inggris mereka???
Pertanyaan ini cukup mengganggu pikiran saya, karena saat olimpiade berlangsung, saya sempat memperhatikan adegan dimana kamera menyorot satu per satu jawaban teori siswa, dimana jawaban siswa lain yang diperankan oleh bule, mereka menggunakan Bahasa Inggris dalam menjawab soal, sementara si Arief sendiri yang terlihat jelas oleh saya menggunakan Bahasa Indonesia. Memangnya di sana ada juri dari Indonesia juga ya??? Atau ada translaternya untuk yang tidak menggunakan Bahasa Internasional??? Hfff, entahlah, karena saya juga tidak menemukan jawabannya di film itu 😛

Lain lagi dengan suami saya, beliau melihat film ini diangkat dari kisah nyata yang terjadi di tahun 2006. Dan menurut hematnya, film ini terlalu canggih untuk ukuran setting tahun 2006.
Seperti terlihat pada Ibu Guru Tari Hayati yang sudah menggunakan ponsel Blackberry sementara setting menjelaskan beliau mengajar di sebuah daerah terpencil di Madura. Juga pada kondisi dimana kepala sekolah membeli beberapa komputer baru yang kesemuanya sudah LCD.
Suami sayapun sempat menyoroti sisi fisikanya yang kurang ditonjolkan. Seperti saat Arief mengambil bola menggunakan botol yang diisi air. Kenapa tidak langsung lemparkan saja botolnya ke arah bola, lebih gampang begitu kan??? Kecuali jika si Arief sempat mengukur derajat kemiringan arah botol terhadap bola, juga tekanan pompa terhadap air dalam botol. Bukankah dengan begitu fisika praktisnya akan terlihat jauh lebih keren?! 😛

Sebenarnya masih banyak kejanggalan-kejanggalan yang menurut saya sangat disayangkan untuk film ini, mulai dari alur yang kacau dan membingungkan, sampai karakter personal pemain yang tidak jelas arahnya, hanya saya bingung saja gimana harus mengulasnya satu per satu. Lagipula, kalo posting ini lebih panjang lagi, saya takut nanti banyak yang nawarin saya jadi sutradara, hihi 😛

Yang jelas, dari segi kematangan konsep, menurut saya film ini masih jauh untuk bisa menyamai film inspirasi lain sekelas “Laskar Pelangi” dan “Sang pemimpi”.
Eh, tapi yang paling saya suka dari film ini tuh adalah perannya si Indro, meski hanya jadi tukang ketoprak, tapi karakternya berisi dan ga maksa, dan cukup memberi epilog yang menyegarkan buat saya.
Yaaaaahhhh, ini sih hanya review menurut kacamata pribadi saya. Mungkin kalian punya pendapat lain??? 😉

 

10 thoughts on “Review film “Mestakung” di mata saya pribadi

  1. Jadi, biang keladinya adalah durasi. dia yang bikin scene kacau. Padahal sekenarionya udah oke, runut, bisa dibaca dari novelisasinya. halaahh jadi promosi novelku, maap-maap. eniwei ini review yang sangat cermat!

    • Iya, sayapun berpikir semua kacau balau karna durasi waktu yang mepet banget, kerasa banget kayak dikejer-kejer durasi gitu semua adegannya.
      Ah, bener-bener terlalu ya si durasi itu. Tar kalo lewat depan rumahku tak cincang-cincang itu yang namanya durasi 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *