Keberhasilan Menyusui Didapat Karena Usaha yang Keras, BUKAN Karena Keberuntungan!!!

Jadi ingat beberapa waktu lalu, di sebuah pusat perbelanjaan di kota ini.
Saya menyusui Dynda di ruang Ibu & anak yang tersedia di mall itu.
Tak lama dari saya masuk, ada seorang ibu membawa ransel gede banget masuk seorang diri, lalu keluarlah alat tempur seabrek dari dalam ransel itu, saya perhatikan saja sepintas terlihat ada termos kecil untuk air panas, ada botol minum ukuran agak besar yang masih berisi setengahnya, ada botol dot, serta susu formula yang dimasukkan di dalam wadah sejenis toples plastik gitu.

Tanpa saya duga, beliau menegur saya :
Ibu : “Berapo bulan anaknyo tuh dek?”
Saya : 8 bulan bu
Ibu : “Lupo bawa dot apo sampe netek’i langsung tuh, kalo aku kemano-mano dak tinggal nian ini barang-barang se-tas besak, biar uji pegi nak sebentar be, tetep aku bawak dot dg susu, dak boleh nian ini tinggal”.
Saya : Anak aku idak nyusu bu, cuma nenen ni lah be.
Ibu : (tampang agak heran bercampur kaget)…eeeehhh kau nih, anak masih bayi cak ini dak dienjuk susu, anak aku be la setahun setengah masih tetep ku kasih susu, sampe dio besak agek, biarlah mahal-mahal ye kalo untuk anak dak pake itung-itungan aku pokoknyo.
Saya : Oh kalo aku justru peritungan nian bu, aku itung galo apo yang lebih manfaat & idak untuk anak aku….Kalo aku la tau ASI jauh lebih baek, ngapoin aku keluar duit mahal-mahal untuk beli susu.
Ibu : Iyo sih ASI memang bagus ye…(agak kebingungan mau ngomong apa, lalu…)
Tapi lemak kau deres ASI nyo ye, aku dak keluar nian ASI aku, cuma biso netek’in 2 bulan, sudahnyo kering ASI aku…yo lemaklah, beruntung berarti kau, jarang ado wong pacak nyusui dak nambah susu lagi.
Saya : *senyum aja lah…kalo mo jelasin juga tar jadi kayak kuliah 4sks dah panjangnya 😀

Well, menyikapi pertanyaan ibu tadi, memang ada banyak sekali orang di luar sana yang menganggap keberhasilan menyusui karena keberuntungan.

Haruskah setiap menit & detik saya share bagaimana proses menangis & berdarah-darahnya saya dalam usaha menyusui Dynda?!

Haruskah setiap menit & detik saya ingatkan pernah 2 kali membawa Dynda ke rumah sakit di tengah larut malam karena Dynda muntah darah, yang ternyata darah itu berasal dari puting saya yang robek menganga, terbayang pedihnya seperti apa?!

Haruskah saya ledakkan isi hati betapa saya menyesal telah menyentak ibu saya dengan sentakan yang amat keras saat diam-diam ibu saya membelikan susu untuk Dynda (walau tak sempat dibuka).

Haruskah saya uraikan betapa beratnya saya meninggalkan rumah ibu dan kembali ke kontrakan mungil kami, saat belum genap 2 minggu pasca persalinan saya, semua demi mencari suasana kondusif guna mendukung proses saya memberikan ASI.

Haruskah pula saya katakan betapa sedihnya saya saat menolak permintaan mertua untuk berkunjung ke rumahnya, dan saya katakan pada suami, “Sampe mama stop komen tentang susu, baru Ummi galak bawa Dynda kesano”
Lantas sekarang, setelah Dynda sukses menjadi sarjana ASI Eksklusif, bahkan sukses menjadi magister ASI, semua berkomentar bahwa SAYA BERUNTUNG…..haaaaxxxxx…

Ayolah, jangan mencari kambing hitam di dirimu sendiri.
Jangan membutakan mata & menulikan telinga dari informasi, sehingga yang keluar hanyalah “hidup orang lain penuh dengan KEBERUNTUNGAN”.

Jika hidup orang lain penuh dengan keberuntungan, maka hidupmu penuh dengan apa? penuh dengan kesialan demi kesialan kah?!

Inilah contoh nyata manusia kufur nikmat, selalu merasa dirinya TAK MAMPU sebelum melakukan perjuangan.
Selalu merasa sudah melakukan perjuangan hebat tanpa hasil, padahal jelas hasil itu menunjukkan seberapa keras kamu sudah berjuang!

Tak ada yang mudah teman, tapi sekali lagi saya prinsipkan TAK MUDAH BUKAN BERARTI MENYERAH!

 

Seperti mengutip perkataan seorang teman di salah satu grup pendukung ASI yang ku ikuti  berikut ini :

Dear member,

Tahukah Anda bahwa menyusui itu tidaklah mudah, tidak sesimple arti katanya?
Tahukah Anda bahwa menyusui hanyalah sebagian kecil dari tugas seorang ibu, tapi selain itu ada banyak lagi tantangan dan tugas seorang ibu yang jauh lebih sulit?
Tahukah Anda bahwa pikiran mempunyai kekuatan yang maha dasyat?
Lalu tahukah Anda apa dan siapa yang paling menentukan keberhasilan kita?

Menyusui adalah tantangan awal seorang ibu setelah malaikat kecil terlahir ke dunia.
Bukan suatu proses yang mudah bahkan bagi ibu yang sudah pernah menyusui sekalipun.
maka tidak ada seorang pun ibu yang berhasil menyusui dengan mudah, apalagi cuma karena faktor keberuntungan, tentu tidak.

 

karena untuk terus menyusui seorang ibu harus memiliki keyakinan tingkat tinggi, usaha yang pantang menyerah, pikiran yang ekstra optimis serta sangat jauh dari keputusasaan.

 

Bukan hal yang mudah untuk tetap tenang saat anak menangis dan menangis.

bukan hal yang budah untuk tetap tegas menolak godaan lain selain ASI di saat ibu kebingungan menghadapi bayi yang belum dipahaminya.

bukan hal yang mudah untuk menghalau pikiran galau ketika ibu mengira tangisan itu selalu karena lapar, lapar n lapar.

bukan hal yang mudah untuk tetap bersyukur dan tenang saat hasil tidak sesuai harapan, sungguh bukan hal yang mudah.

Tapi menyusui hanyalah tantangan awal bagi seorang ibu, sebagian kecil tugas seorang ibu, yang juga dialami oleh semua ibu.

yang membedakannya hanyalah bagaimana sikap ibu menghadapi dan menyelesaikan tantangan tersebut.

 

Masih ada banyak tantangan lainnya yang pasti akan lebih berat daripada menyusui.

Semakin besar anak, kebutuhannya akan semakin banyak, pergaulan semakin luas, dan juga pasti akan menemukan hal-hal baru di luar sana, yang mungkin akan membuat ortu kualahan.

Tantangan ini akan dihadapi semua ibu dan juga ayah, dan lagi-lagi yang akan membedakan hanya sikap menghadapi dan menyelesaikan tantangannya.

Lalu apa yaah yang kira-kira akan menghalangi keberhasilan kita menghadapi dan menyelesaikan semua tantangan tersebut????
MINDSET…
Pernah denger ‘Mind Power’ atau ‘Brain Power’ atau ‘You Are What You Think’?

Yup.. Mindset kita ini memiliki kekuatan yang maha dasyat looh, mindset kita adalah penentu keberhasilan kita, karena mindset ini yang akan mendorong kita untuk melakukan atau tidak melalukan sesuatu, yakin atau tidak yakin terhadap sesuatu, mau bangkit dari keterpurukan ataukah mau terus terpuruk.

 

Mindset juga yang akan mendorong kepribadian kita apakah kita akan menjadi seorang yang optimis ataukah menjadi seorang yang pesimis.

 

Kekuatan pikiran kita yang akan membuat aura diri kita.

 

jika kita menjadi sosok optimis dg aura positif maka alam pun akan membantu mewujudkan pikiran kita, dan kita akan mampu menularkan aura positif kita, dan sebaliknya jika kita menjadi sosok pesimis dg aura negatif maka alam juga akan membantu mewujudkan pikiran kita, dan kita akan menularkan aura negatif kita.

Jika kita ingin berhasil melakukan sesuatu maka katakanlah kepada diri sendiri ‘aku bisa’, ‘aku mampu’, ‘aku mau berhasil‘, ‘aku mau berusaha’, dan kalimat positif lainnya.

Dan kalimat positif ini harus ditanamkan di hati dan juga di pikiran kita.

 

Jangan pernah berhenti berharap, jangan pernah merasa sudah cukup dalam berusaha (karena mungkin di luar sana ada orang yang berusaha lebih hebat daripada kita).

jangan terlalu larut menyesali dan meratapi kegagalan, apalagi terus menyalahkan diri sendiri.

 

dan hal ini haruslah benar-benar terwujud dengan sikap, bukan hanya diniatkan dan dikatakan tapi lakukan 😉
Gak percaya?? coba buktikan aja sendiri 😀

Dari sekian panjang ketikan ini intinya adalah aku mengharapkan semua member TATC mampu menjadi sosok yang optimis dan selalu positif, selalu bahagia, bukan hanya agar berhasil menyusui tapi juga agar mampu melakukan hal positif lainnya bagi keluarga dan masyarakat, mampu mewariskan sikap positif kepada anak-anak..

Okelah sesekali kita akan terbentur dengan kesedihan dan kegagalan, tapi bukan untuk waktu yang lama, karena jika kita menjadi si optimis, insya Allah kita akan mampu segera bangkit dan terus ‘berjalan maju’ 😉
Moga-moga tidak ada lagi yang terus pesimis saat bergabung di TATC terutama dalam masalah menyusui.. aamiin

 

Saya cuma mau nambahin sedikit bahwa saat Anda mulai membandingkan diri kenapa orang lain mampu, kenapa aku berbeda, kenapa belum berhasil, dsb…
Ingatlah selalu kalimat ini :
Keberhasilan Menyusui Didapat Karena Usaha yang Keras, BUKAN Karena Keberuntungan!!!

Sooo, jika saya bisa, jika mereka bisa, kenapa kamu enggak???!!! 😉

 

8 thoughts on “Keberhasilan Menyusui Didapat Karena Usaha yang Keras, BUKAN Karena Keberuntungan!!!

  1. Salut kak samo isi blog ini,,
    Mudah2a aji jugo biso sukses jadi sarjana ASI ekslusif,,

    Any way, kalo nak gabung di TATC cak mano kak ?

    • Nanti kalo Dita udah jadi ibu, contoh semangat kk nya, kalahkan kalo bisa.
      Semangat memeberikan HAK si buah hati.
      Salam kenal 🙂

  2. Hidup dalam masyarakat yang bersikap mendua soal menyusui, memang tidak mudah. Menyusui bayi memang tugas seorang ibu, karena hanya ibulah yang memiliki perlengkapan itu. Tetapi bila hal itu dilakukan ditempat umum, si ibu dianggap menyajikan pemandangan erotis. Inilah sebabnya mengapa beberapa negara merasa perlu memberi perlindungan hukum bagi ibu menyusui. Selain untuk meningkatkan kesadaran para ibu akan pentingnya ASI, perlindungan hukum hukum ini juga ditunjukan untuk mengubah persepsi orang pada umumnya bahwa menyusi adalah tindakan yang senonoh.

  3. Mksh bgdd buat share pengalaman’a… saya ibu baru yg sdh berada d pintu leputus asaan… Sedih sekali rasa’a ketika merasa g sanggup memberi asi k anak… ;(

  4. Tiap hari saya menangisi diri saya karena merasa tdk optimal mnjd seorg ibu… Saya mudah menyerah ketika puting saya sdh berdarah… perlarian saya k susu formula… Dr hati yg paling dlm saya benci lihat dot menempel d mulut anak tercinta saya… Sdh brp kali saya lempar dot Sangking saya menolak pemberian susu formula n dot,.. Tp apalah daya saya terlalu pesimis dlm pemberian asi…

    Stlh saya baca artikel ini, Mdh2n bs meningkatkan kepercayaan saya utk Trz berjuang demi buah hati…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *